Proses pressing merupakan salah satu tahap penting dalam finishing pakaian. Selain membuat pakaian terlihat lebih rapi, proses ini juga membantu membentuk bagian tertentu agar sesuai dengan desain yang diinginkan.
Namun, penggunaan suhu yang tidak tepat dapat memengaruhi kualitas kain. Salah satu masalah yang dapat muncul adalah glossing, yaitu kondisi ketika permukaan kain menjadi terlalu mengkilap setelah terkena panas dan tekanan.
Sebuah penelitian pada proses finishing celana panjang Bigborn 2-Tuck Pants Style 3651 menguji beberapa variasi suhu pressing untuk mengetahui kondisi yang paling sesuai. Bahan yang digunakan merupakan kain dengan komposisi 65% polyester dan 35% katun.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, suhu 80°C menjadi kondisi optimum dalam percobaan karena tidak menimbulkan cacat glossing maupun poor press dan memiliki kekuatan tarik kain yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan pada suhu 90°C.
Apa Itu Proses Pressing pada Pakaian?
Pressing adalah proses pemberian panas, tekanan, kelembapan, dan waktu tertentu pada bahan atau pakaian. Dalam industri pakaian, proses ini dilakukan untuk menghaluskan, membentuk, dan merapikan pakaian sebelum masuk ke tahap finishing berikutnya.
Pada dasarnya, pressing dapat dilakukan pada beberapa tahap produksi. Under pressing dilakukan selama proses pembuatan pakaian, sedangkan top pressing dilakukan ketika pakaian sudah mendekati tahap akhir produksi.
Karena melibatkan panas dan tekanan, pengaturan mesin harus disesuaikan dengan karakter bahan. Setiap kain memiliki ketahanan terhadap panas yang berbeda. Oleh karena itu, penggunaan suhu yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi dapat menimbulkan masalah pada hasil akhir.
Mengapa Suhu Pressing Perlu Diperhatikan?
Suhu menjadi salah satu faktor penting dalam proses pressing. Jika suhu terlalu rendah, pakaian dapat mengalami poor press, yaitu hasil pengepresan yang kurang maksimal.
Sebaliknya, suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan perubahan pada permukaan dan sifat fisik kain. Salah satu efek yang dapat muncul adalah glossing, yaitu permukaan kain menjadi mengkilap secara tidak diinginkan.
Pada bahan campuran polyester dan katun, pengaruh panas perlu diperhatikan karena polyester memiliki karakteristik yang dapat berubah ketika mendapatkan perlakuan panas tertentu.
Dengan demikian, pengaturan suhu perlu mempertimbangkan komposisi bahan yang digunakan.
Selain suhu, hasil pressing juga dipengaruhi oleh tekanan dan waktu. Ketiga faktor tersebut perlu dikendalikan agar hasil akhir tetap konsisten.
Mengenal Cacat Poor Press dan Glossing
Dalam proses pressing, terdapat beberapa kondisi yang perlu diperhatikan. Pada penelitian ini, dua jenis cacat yang menjadi perhatian adalah poor press dan glossing.
Apa Itu Poor Press?
Poor press merupakan kondisi ketika hasil pengepresan tidak maksimal. Permukaan atau bentuk pakaian masih terlihat kurang rapi karena panas, tekanan, atau waktu pressing belum sesuai.
Pada penelitian tersebut, kondisi poor press ditemukan pada penggunaan suhu 60°C dan 70°C.
Dengan kata lain, suhu tersebut belum memberikan kondisi pressing yang optimal untuk bahan dan parameter yang digunakan dalam penelitian.
Apa Itu Glossing?
Glossing adalah kondisi ketika permukaan kain menjadi terlihat mengkilap secara tidak diinginkan setelah proses pressing.
Cacat tersebut dapat terjadi ketika bahan menerima kombinasi panas dan tekanan yang terlalu tinggi.
Pada penelitian ini, glossing ditemukan pada penggunaan suhu 100°C.
Karena itu, suhu pressing perlu berada pada kondisi yang cukup untuk menghasilkan pengepresan yang baik, tetapi tidak berlebihan hingga memengaruhi tampilan kain.
Percobaan Variasi Suhu Pressing
Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimen. Variabel yang diubah adalah suhu pressing, sedangkan waktu dan tekanan dibuat tetap.
Lima variasi suhu yang digunakan adalah:
| Suhu Pressing | Hasil |
|---|---|
| 60°C | Mengalami poor press |
| 70°C | Mengalami poor press |
| 80°C | Tidak mengalami glossing atau poor press |
| 90°C | Tidak mengalami glossing atau poor press |
| 100°C | Mengalami glossing |
Bahan yang digunakan berupa kain tenun untuk celana panjang Bigborn 2-Tuck Pants Style 3651 dengan komposisi 65% polyester dan 35% katun, gramasi 190 g/m², serta warna navy blue.
Berdasarkan hasil tersebut, suhu 80°C dan 90°C sama-sama menghasilkan kondisi pressing tanpa cacat glossing maupun poor press.
Namun, pengamatan terhadap cacat permukaan saja belum cukup untuk menentukan kondisi yang paling optimum. Oleh sebab itu, penelitian juga melakukan pengujian terhadap kekuatan tarik kain.
Pengaruh Suhu terhadap Kekuatan Tarik Kain
Selain mengamati cacat pada permukaan kain, penelitian juga melakukan pengujian kekuatan tarik.
Pengujian dilakukan pada dua arah kain, yaitu arah lusi dan arah pakan.
Hasil pengujian menunjukkan adanya kecenderungan penurunan kekuatan tarik ketika suhu pressing semakin tinggi.
Kekuatan Tarik Arah Lusi
Sebelum mendapatkan perlakuan pressing, kekuatan tarik kain arah lusi tercatat sebesar 59,60 kg.
Setelah mendapatkan perlakuan pressing, hasilnya adalah:
| Suhu | Kekuatan Tarik Arah Lusi |
|---|---|
| 60°C | 58,87 kg |
| 70°C | 58,07 kg |
| 80°C | 55,00 kg |
| 90°C | 54,10 kg |
| 100°C | 51,60 kg |
Data tersebut menunjukkan bahwa kekuatan tarik arah lusi semakin menurun seiring meningkatnya suhu pressing.
Kekuatan Tarik Arah Pakan
Sementara itu, kekuatan tarik awal pada arah pakan adalah 49,00 kg.
Setelah proses pressing, diperoleh hasil:
| Suhu | Kekuatan Tarik Arah Pakan |
|---|---|
| 60°C | 47,80 kg |
| 70°C | 46,27 kg |
| 80°C | 45,50 kg |
| 90°C | 42,90 kg |
| 100°C | 41,93 kg |
Hasil tersebut juga menunjukkan kecenderungan penurunan kekuatan tarik pada arah pakan ketika suhu pressing semakin tinggi.
Dengan demikian, peningkatan suhu perlu diperhatikan bukan hanya dari tampilan permukaan kain, tetapi juga dari perubahan sifat fisiknya.
Mengapa Suhu 80°C Menjadi Kondisi Optimum?
Berdasarkan hasil pengamatan, suhu 80°C dan 90°C sama-sama tidak menghasilkan glossing maupun poor press.
Namun, ketika dibandingkan berdasarkan kekuatan tarik kain, suhu 80°C memberikan hasil yang lebih baik.
Pada suhu 80°C, kekuatan tarik mencapai:
- 55 kg pada arah lusi
- 45,5 kg pada arah pakan
Sedangkan pada suhu 90°C, kekuatannya turun menjadi:
- 54,10 kg pada arah lusi
- 42,90 kg pada arah pakan
Oleh karena itu, dengan mempertimbangkan kedua hasil tersebut, penelitian menetapkan 80°C sebagai suhu pressing optimum untuk bahan dan kondisi percobaan tersebut.
Penting: 80°C Bukan Standar untuk Semua Kain
Hasil tersebut tidak berarti bahwa semua jenis kain harus dipressing menggunakan suhu 80°C.
Perlu diperhatikan bahwa penelitian menggunakan bahan dengan komposisi 65% polyester dan 35% katun, tekanan tetap 4,5 bar, serta waktu pressing 18 detik.
Apabila jenis kain, komposisi serat, tekanan, waktu, atau mesin yang digunakan berbeda, kondisi optimum juga dapat berbeda.
Dengan demikian, pengaturan pressing sebaiknya ditentukan berdasarkan karakteristik bahan dan hasil pengujian, bukan hanya mengikuti satu angka suhu.
Hubungan Polyester dengan Penggunaan Panas
Polyester merupakan serat buatan yang banyak digunakan dalam berbagai jenis pakaian. Salah satu karakteristiknya adalah memiliki ketahanan terhadap kusut yang baik.
Namun, polyester juga dapat mengalami perubahan ketika mendapatkan panas. Ketika mendapatkan perlakuan panas tertentu, struktur serat dapat mengalami perubahan sehingga sifat fisiknya ikut terpengaruh.
Pada kain campuran polyester dan katun, kondisi tersebut perlu diperhatikan selama proses pressing.
Selain dapat memengaruhi tampilan permukaan, panas yang berlebihan juga dapat berhubungan dengan perubahan sifat fisik kain, termasuk kekuatan tarik.
Oleh karena itu, proses pressing sebaiknya tidak hanya berorientasi pada hasil pakaian yang terlihat rapi. Kondisi kain setelah mendapatkan perlakuan panas juga perlu diperhatikan.
Tips Menghindari Glossing Saat Pressing
Untuk mengurangi risiko glossing dan poor press pada pakaian, beberapa hal berikut dapat menjadi perhatian dalam proses produksi.
1. Sesuaikan Suhu dengan Jenis Kain
Jangan menggunakan satu pengaturan suhu untuk semua jenis bahan.
Sebaliknya, komposisi serat dan karakter kain perlu menjadi pertimbangan sebelum menentukan suhu pressing.
2. Perhatikan Tekanan Mesin
Suhu bukan satu-satunya faktor yang menentukan hasil pressing. Tekanan yang terlalu besar juga dapat memengaruhi permukaan kain.
Karena itu, tekanan perlu disesuaikan dengan bahan dan proses yang dilakukan.
3. Atur Waktu Pressing
Waktu yang terlalu lama dapat membuat kain menerima panas lebih banyak.
Oleh sebab itu, durasi pressing perlu disesuaikan dengan kondisi bahan, mesin, serta hasil yang ingin dicapai.
4. Lakukan Pengujian Sebelum Produksi Massal
Sebelum menerapkan pengaturan tertentu pada seluruh produksi, lakukan pengujian pada sampel kain.
Langkah ini dapat membantu mengetahui apakah muncul perubahan warna, glossing, poor press, atau perubahan karakteristik kain.
Dengan demikian, pengaturan proses dapat diperbaiki sebelum diterapkan pada jumlah produksi yang lebih besar.
5. Periksa Hasil Akhir
Setelah pressing selesai, periksa permukaan kain dan bentuk pakaian.
Pemeriksaan sederhana dapat membantu menemukan cacat sebelum produk masuk ke proses selanjutnya.
Pentingnya Pengendalian Suhu dalam Industri Konveksi
Pengaturan suhu pressing menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas pakaian. Suhu yang terlalu rendah dapat menghasilkan pengepresan yang kurang maksimal, sedangkan suhu yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko cacat permukaan dan memengaruhi sifat kain.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa suhu 80°C memberikan hasil paling optimum pada kondisi percobaan yang digunakan. Pada suhu tersebut, kain tidak mengalami glossing maupun poor press dan masih memiliki kekuatan tarik yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan pada suhu 90°C dan 100°C.
Dengan demikian, proses pressing sebaiknya dilakukan berdasarkan karakteristik bahan, tekanan, waktu, serta kondisi mesin.
Pressing sebagai Bagian dari Kualitas Pakaian Custom
Dalam produksi pakaian custom, proses finishing menjadi salah satu tahap yang menentukan tampilan akhir produk.
Pakaian yang telah melalui proses pemotongan dan jahit dengan baik tetap membutuhkan finishing yang tepat agar bentuk dan tampilannya lebih rapi.
Karena itu, pengendalian pressing menjadi salah satu bagian yang perlu diperhatikan, terutama ketika bahan memiliki karakteristik yang sensitif terhadap panas.
Pengujian sampel sebelum produksi dalam jumlah besar juga dapat membantu menentukan pengaturan yang lebih sesuai dengan bahan yang digunakan.
=====
Wujudkan kebutuhan pakaian custom Bapak/Ibu bersama Adhinata Konveksi, pilihan untuk pembuatan kaos dan berbagai jenis seragam sesuai kebutuhan.
Adhinata Konveksi menyediakan:
- Pembuatan kaos custom untuk berbagai kebutuhan.
- Pembuatan seragam kerja, sekolah, dan olahraga.
- Layanan desain dan sablon sesuai kebutuhan.
- Jasa jahit dan makloon untuk produksi.
Dengan jahitan yang rapi, pilihan produk yang beragam, serta layanan pengiriman ke seluruh Indonesia, Adhinata Konveksi siap membantu memenuhi kebutuhan kaos dan seragam Bapak/Ibu.
Informasi & Pemesanan:
Admin 1: 085217328032
Admin 2: 081973751833
