Inovasi Teknik Jahitan pada Kemeja Wanita
Perkembangan industri fashion membuat kebutuhan terhadap produk pakaian semakin beragam. Selain mengikuti tren, konsumen juga semakin memperhatikan keunikan desain, kenyamanan, dan nilai estetika suatu busana. Salah satu produk fashion yang banyak digunakan adalah kemeja wanita karena dapat dikenakan untuk kegiatan kuliah, bekerja, maupun aktivitas sehari-hari.
Namun, perkembangan teknologi produksi juga mengubah cara industri fashion menghasilkan pakaian. Penggunaan digital printing membuat proses produksi motif menjadi lebih cepat dan praktis. Akibatnya, penggunaan teknik sulaman secara manual pada produk fashion semakin terbatas.
Kondisi tersebut membuka peluang untuk menghadirkan inovasi pada produk pakaian. Salah satunya melalui penerapan teknik jahitan fagoting menggunakan sulaman cretan insertion pada kemeja wanita.
Teknik fagoting digunakan untuk menghubungkan dua bagian kain melalui jahitan dekoratif. Sementara itu, sulaman cretan insertion atau sulaman penyisipan dilakukan dengan menyatukan benang lusi dan benang pakan. Perpaduan kedua teknik tersebut dapat menghasilkan detail dekoratif yang berbeda dari penggunaan digital printing.
Tujuan Pengembangan Kemeja
Penelitian ini bertujuan untuk:
- Mendesain kemeja wanita dengan teknik jahitan fagoting menggunakan sulaman cretan insertion.
- Membuat dan mengaplikasikan teknik tersebut pada produk kemeja wanita.
- Mengetahui daya tarik mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala terhadap produk yang dihasilkan.
- Membandingkan daya tarik antara kemeja oversize dan kemeja tunik.
Inovasi ini diharapkan dapat menjadi alternatif pengembangan produk fashion bagi mahasiswa maupun pelaku usaha fashion lokal.
Metode Penelitian
Penelitian menggunakan metode eksperimen terapan dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian dilakukan untuk menghasilkan produk kemeja wanita sekaligus mengukur daya tarik responden terhadap hasil eksperimen.
Populasi penelitian terdiri atas 375 mahasiswi Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala angkatan 2021, 2022, dan 2023. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan pertimbangan bahwa responden menggunakan pakaian formal seperti kemeja saat berada di kampus.
Sebanyak 95 mahasiswi ditetapkan sebagai responden. Data dikumpulkan melalui dokumentasi, eksperimen terapan, dan kuesioner.
Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengetahui apakah setiap pernyataan dalam kuesioner mampu mengukur aspek yang diteliti. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh item P1 sampai P14 memiliki nilai r hitung lebih besar daripada r tabel sebesar 0,361.
Dengan demikian, seluruh pernyataan dalam instrumen dinyatakan valid dan dapat digunakan untuk mengumpulkan data penelitian.
Uji Reliabilitas
Selanjutnya, reliabilitas instrumen diuji menggunakan Cronbach’s Alpha. Hasil pengujian menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,887, sedangkan standar reliabilitas yang digunakan adalah 0,600.
Karena nilai 0,887 lebih besar daripada 0,600, seluruh item pertanyaan dinyatakan reliabel atau konsisten.
Tahapan Pembuatan Kemeja
Pembuatan kemeja dilakukan melalui beberapa tahapan. Proses tersebut meliputi:
- Mendesain model kemeja yang akan dikembangkan.
- Menentukan kain yang digunakan.
- Menyiapkan alat dan bahan untuk pembuatan kemeja serta sulaman.
- Membuat pola dan memotong kain sesuai pola.
- Menjahit kemeja, membuat sulaman, mengaplikasikan sulaman pada kemeja, melakukan finishing, dan melakukan pemeriksaan akhir.
Desain busana dibuat menggunakan aplikasi ibisPaint X karena aplikasi tersebut memiliki fitur yang mendukung proses perancangan busana secara digital.
Bahan utama yang digunakan adalah katun poplin. Bahan tersebut dipilih karena memiliki karakteristik yang nyaman dan mampu menyerap keringat.
Desain Kemeja Model I
Model I merupakan kemeja oversize dengan potongan longgar. Kemeja ini menggunakan lengan licin dan bagian bawah yang sedikit melengkung. Bagian kancing menggunakan model fly front sehingga kancing tidak terlihat dari bagian luar.
Sulaman cretan insertion ditempatkan pada bagian saku, lengan, dan bagian depan kemeja. Penempatan sulaman dibuat asimetris pada bagian depan, sedangkan bagian lengan dan saku menggunakan susunan yang lebih simetris.
Kombinasi warna yang digunakan adalah cokelat susu dan bronze, dengan benang sulam berwarna bronze. Penempatan sulaman pada bagian yang mudah terlihat bertujuan untuk memberikan daya tarik visual pada produk.
Desain Kemeja Model II
Model II berupa kemeja tunik dengan lengan balon. Bagian kancing menggunakan model shirt front dan tidak dilengkapi saku. Bagian bawah tunik dibuat rata serta memiliki belahan pada sisi kemeja.
Sulaman ditempatkan pada bagian lengan, manset, serta bagian bawah depan dan belakang kemeja. Penempatannya dibuat simetris sehingga menghasilkan tampilan yang lebih teratur.
Kemeja tunik menggunakan warna baby blue. Desain yang lebih sederhana memberikan kesan formal dibandingkan model oversize.
Proses Aplikasi Sulaman Cretan Insertion
Pengaplikasian sulaman dilakukan setelah proses pembuatan kemeja selesai. Pada bagian kain yang akan digunakan untuk sulaman, terlebih dahulu dipasang vislin sesuai kebutuhan.
Selanjutnya, kain yang akan disulam diletakkan pada kertas pola dan dijelujur agar posisinya tetap stabil. Jarak sulaman diatur sekitar 1 cm, kemudian proses penyulaman dilakukan secara bertahap.
Pada model I, kain yang telah diberi sulaman diletakkan pada bagian kemeja, kemudian dijahit mengikuti bentuk kain sulaman. Sementara itu, pada model II, proses sulaman dilakukan dengan menghubungkan bagian kain satu dengan bagian lainnya hingga selesai. Setelah itu, bagian yang telah disulam disatukan dengan kemeja.
Proses tersebut menghasilkan dua produk dengan karakter visual yang berbeda, tetapi sama-sama menggunakan teknik jahitan fagoting dan sulaman cretan insertion.
Hasil Daya Tarik Responden
Daya tarik produk dinilai berdasarkan beberapa aspek, yaitu model, bahan, penempatan sulaman, perpaduan warna, kerapian jahitan, dan ketertarikan terhadap produk.
Hasil kuesioner menunjukkan bahwa kedua produk memperoleh respons positif. Namun, secara keseluruhan, kemeja oversize model I lebih diminati dibandingkan kemeja tunik model II.
Daya Tarik Model
Pada aspek daya tarik sulaman cretan insertion menggunakan teknik jahitan fagoting, model I memperoleh 88% dan termasuk kategori sangat menarik. Sementara itu, model II memperoleh 78% dan termasuk kategori menarik.
Untuk aspek model kemeja, model I memperoleh 84%, sedangkan model II memperoleh 77%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa model oversize lebih mampu menarik perhatian responden.
Kemeja oversize dinilai lebih fleksibel karena memiliki potongan longgar dan kesan semiformal. Oleh karena itu, model tersebut lebih mudah dipadukan dengan berbagai outfit untuk kegiatan perkuliahan maupun aktivitas sehari-hari.
Kesesuaian Bahan
Pada aspek bahan, model I memperoleh nilai 84% dan termasuk kategori sangat sesuai. Sementara itu, model II memperoleh 80% dan termasuk kategori sesuai.
Kedua produk menggunakan bahan katun poplin. Pemilihan bahan ini mempertimbangkan kenyamanan karena kain katun memiliki kemampuan menyerap keringat dan relatif nyaman ketika digunakan.
Penempatan Sulaman
Pada aspek penempatan sulaman, model I memperoleh 83% dan termasuk kategori sangat sesuai. Model II memperoleh 76% dan termasuk kategori sesuai.
Penempatan sulaman pada kedua produk dibuat sebagai elemen dekoratif tanpa menutupi keseluruhan permukaan pakaian. Dengan demikian, sulaman berfungsi sebagai aksen yang memperkuat karakter desain.
Perpaduan Warna
Perpaduan warna juga memberikan hasil positif. Model I memperoleh 88% dan termasuk kategori sangat menarik. Sementara itu, model II memperoleh 80% dan termasuk kategori menarik.
Penggunaan warna earth tone pada eksperimen membantu memberikan kesan yang lebih lembut dan mudah dipadukan dengan pakaian lainnya.
Kerapian Jahitan
Pada aspek kerapian jahitan, model I memperoleh 88% dan model II memperoleh 80%. Kedua hasil tersebut menunjukkan respons positif dari responden.
Kerapian jahitan menjadi salah satu faktor penting karena dapat memengaruhi tampilan akhir dan kualitas sebuah produk pakaian. Oleh sebab itu, proses finishing dan pemeriksaan akhir perlu dilakukan dengan teliti.
Ketertarikan terhadap Produk
Aspek ketertarikan menjadi salah satu hasil utama penelitian. Model I memperoleh 81% dan termasuk kategori sangat tertarik. Sementara itu, model II memperoleh 75% dan termasuk kategori tertarik.
Berdasarkan seluruh aspek penilaian, model I memiliki persentase yang lebih tinggi dibandingkan model II. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemeja oversize lebih sesuai dengan preferensi responden dalam penelitian ini.
Perbandingan Model I dan Model II
Secara keseluruhan, kemeja oversize model I memperoleh respons yang lebih baik pada aspek model, bahan, penempatan sulaman, perpaduan warna, kerapian jahitan, dan ketertarikan responden.
| Aspek Penilaian | Model I | Model II |
|---|---|---|
| Daya tarik sulaman | 88% | 78% |
| Daya tarik model | 84% | 77% |
| Kesesuaian bahan | 84% | 80% |
| Penempatan sulaman | 83% | 76% |
| Perpaduan warna | 88% | 80% |
| Kerapian jahitan | 88% | 80% |
| Ketertarikan produk | 81% | 75% |
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa desain oversize dengan potongan longgar dan kesan semiformal lebih sesuai dengan kebutuhan responden. Selain itu, penempatan sulaman pada bagian yang mudah terlihat membuat detail dekoratif lebih menonjol.
Sebaliknya, kemeja tunik model II memiliki desain yang lebih formal dan sederhana. Panjang tunik serta penempatan sulaman pada bagian bawah membuat karakter produknya berbeda dari model I.
Potensi Inovasi Fashion Lokal
Penggunaan teknik jahitan fagoting dengan sulaman cretan insertion dapat menjadi alternatif untuk menghasilkan produk fashion yang memiliki nilai dekoratif dan karakter berbeda.
Di tengah perkembangan digital printing, teknik sulaman manual tetap memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai elemen pembeda produk. Teknik tersebut dapat diterapkan pada berbagai jenis pakaian, tidak hanya kemeja wanita.
Bagi pelaku usaha fashion lokal, inovasi ini dapat dikembangkan melalui variasi warna, jenis kain, bentuk sulaman, dan model pakaian. Dengan demikian, teknik tradisional dan keterampilan menjahit dapat dikombinasikan dengan desain fashion modern.
=====
Wujudkan kebutuhan pakaian custom Bapak/Ibu bersama Adhinata Konveksi, pilihan untuk pembuatan kaos dan berbagai jenis seragam sesuai kebutuhan.
Adhinata Konveksi menyediakan:
- Pembuatan kaos custom untuk berbagai kebutuhan.
- Pembuatan seragam kerja, sekolah, dan olahraga.
- Layanan desain dan sablon sesuai kebutuhan.
- Jasa jahit dan makloon untuk produksi.
Dengan jahitan yang rapi, pilihan produk yang beragam, serta layanan pengiriman ke seluruh Indonesia, Adhinata Konveksi siap membantu memenuhi kebutuhan kaos dan seragam Bapak/Ibu.
Informasi & Pemesanan:
Admin 1: 085217328032
Admin 2: 081973751833
